HUT ke-69 Riau: SF Hariyanto Jangan Hanya Minta Maaf, Rakyat Menunggu Bukti!
Opini: Redaksi RPC
PEKANBARU – RIAUPUBLIK.COM – Provinsi Riau genap berusia 69 tahun. Sebuah usia yang tidak lagi muda. Enam puluh sembilan tahun seharusnya cukup menjadi waktu untuk membangun fondasi pemerintahan yang kuat, infrastruktur yang layak, ekonomi yang tumbuh dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik.
Namun di balik kemeriahan perayaan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau, ada satu pertanyaan yang patut diajukan:
Sudah sejauh mana pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto dalam momentum HUT ke-69 Riau menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas sejumlah pekerjaan pemerintah yang belum maksimal.
Permintaan maaf seorang pemimpin tentu patut dihargai.
Tetapi rakyat tidak cukup hanya diberi kata maaf.
Rakyat membutuhkan bukti.
69 Tahun Riau, Masih Bicara Jalan Rusak
Persoalan infrastruktur bukan perkara baru.
Jalan menjadi urat nadi perekonomian. Ketika jalan rusak, distribusi barang terganggu, biaya transportasi meningkat dan aktivitas masyarakat ikut terdampak.
Maka ketika persoalan jalan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah, pertanyaan publik sangat sederhana:
Mengapa persoalan yang begitu mendasar masih terus berulang?
Apakah persoalannya anggaran?
Perencanaan?
Pengawasan?
Atau justru persoalan menentukan skala prioritas?
Pertanyaan tersebut semestinya dijawab secara terbuka oleh pemerintah, bukan dianggap sebagai bentuk serangan politik.
Riau Kaya, Mengapa Lapangan Kerja Masih Menjadi Persoalan?
Riau memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa.
Namun kekayaan alam harus berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat tidak cukup hanya mendengar bahwa Riau kaya. Mereka ingin merasakan manfaat kekayaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan, kesempatan berusaha dan akses ekonomi yang adil harus menjadi indikator keberhasilan pembangunan.
Jika anak-anak muda Riau masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, maka pemerintah harus berani melakukan evaluasi.
Bukan hanya mencari siapa yang salah, tetapi menemukan apa yang harus diperbaiki.
Jangan Sampai Seremoni Lebih Cepat daripada Pembangunan
HUT provinsi memang penting.
Budaya, sejarah dan identitas daerah harus dirawat.
Tetapi jangan sampai perayaan hari jadi lebih cepat berkembang daripada pembangunan yang menyentuh kebutuhan rakyat.
Panggung boleh megah.
Seremoni boleh meriah.
Pidato boleh penuh optimisme.
Namun rakyat akan kembali ke rumah masing-masing dan menghadapi persoalan yang sama.
Mereka akan kembali melewati jalan yang rusak.
Mereka akan kembali mencari pekerjaan.
Mereka akan kembali mengurus pelayanan administrasi.
Mereka akan kembali menghadapi persoalan ekonomi.
Di situlah ukuran sebenarnya keberhasilan pemerintah.
SF Hariyanto Sedang Berada di Titik Penilaian Publik
Sebagai Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto kini berada pada posisi yang tidak mudah.
Setiap kebijakan akan diperhatikan.
Setiap penggunaan anggaran akan diawasi.
Setiap janji akan dibandingkan dengan realisasi.
Dan setiap program akan dinilai berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat.
Karena itu, momentum HUT ke-69 Riau seharusnya menjadi titik balik.
Permohonan maaf jangan berhenti sebagai kalimat dalam pidato.
Jadikan itu komitmen untuk mempercepat pekerjaan.
Jika ada jalan yang belum selesai, selesaikan.
Jika ada pelayanan yang lambat, perbaiki.
Jika ada lapangan kerja yang kurang, cari terobosan.
Jika ada pembangunan yang belum merata, evaluasi kebijakannya.
Rakyat Tidak Menuntut Keajaiban
Masyarakat Riau sebenarnya tidak menuntut sesuatu yang mustahil.
Mereka hanya ingin pemerintah bekerja secara serius, transparan dan berpihak kepada kepentingan publik.
Rakyat ingin melihat pemerintah hadir bukan hanya ketika ada acara resmi.
Mereka ingin pemerintah hadir ketika jalan rusak.
Hadir ketika masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan.
Hadir ketika anak muda mencari pekerjaan.
Hadir ketika pelaku usaha kecil membutuhkan dukungan.
Dan hadir ketika pembangunan membutuhkan pengawasan.
69 Tahun Riau, Saatnya Bicara Data dan Hasil
Kini saatnya Pemerintah Provinsi Riau membuka capaian pembangunan secara transparan kepada masyarakat.
Berapa target yang sudah tercapai?
Berapa yang belum?
Berapa anggaran yang telah digunakan?
Apa saja proyek prioritas yang selesai?
Apa yang gagal?
Dan apa alasannya?
Publik berhak mengetahui.
Sebab APBD bukan milik pejabat.
APBD adalah uang rakyat.
Jangan Takut Dikritik
Pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang tidak pernah dikritik.
Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu menerima kritik, menjawabnya dengan data dan membuktikan dengan kerja.
Di usia ke-69 Provinsi Riau, SF Hariyanto memiliki kesempatan untuk menunjukkan hal tersebut.
Bukan dengan slogan. Bukan dengan pencitraan. Tetapi dengan pekerjaan yang selesai.
Sebab sejarah tidak akan mencatat berapa banyak spanduk HUT yang terpasang.
Sejarah akan mencatat siapa yang benar-benar bekerja ketika masyarakat membutuhkan.
Riau sudah 69 tahun. Rakyat tidak ingin menunggu 70 tahun hanya untuk kembali mendengar permintaan maaf yang sama.
Kini waktunya bekerja.
Buktikan bahwa HUT ke-69 Riau bukan sekadar perayaan, tetapi awal dari perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat.
