Hati-Hati dengan “Pelacur Organisasi”
Opini: Redaksi
![]() |
| Suber Fhoto: Internet |
RIAUPUBLIK.COM,-- Dalam dinamika sosial dan pergerakan organisasi, kita sering menemukan fenomena yang memprihatinkan: individu-individu yang menjadikan organisasi bukan sebagai wadah perjuangan, melainkan sebagai alat kepentingan pribadi. Istilah kerasnya, mereka kerap disebut sebagai “pelacur organisasi” — orang yang mudah berpindah haluan, menjual loyalitas, dan menggadaikan idealisme demi keuntungan sesaat.
Organisasi sejatinya dibangun atas dasar nilai, visi, dan komitmen bersama. Baik itu organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, profesi, maupun politik, semuanya membutuhkan integritas. Tanpa integritas, organisasi hanya akan menjadi kendaraan transaksional.
Fenomena ini biasanya ditandai dengan beberapa ciri. Pertama, mudah berpindah dari satu organisasi ke organisasi lain ketika ada konflik atau ketika kepentingannya tidak terakomodasi. Kedua, menjual nama organisasi untuk mencari keuntungan pribadi, baik secara finansial maupun untuk pencitraan. Ketiga, memprovokasi konflik internal demi posisi atau jabatan.
Lebih berbahaya lagi, tipe seperti ini sering mengatasnamakan perjuangan rakyat atau anggota, padahal yang diperjuangkan adalah kepentingan dirinya sendiri. Mereka pandai berbicara soal loyalitas, tetapi hilang saat tanggung jawab dibutuhkan. Mereka keras di luar, tetapi rapuh dalam komitmen.
Dampaknya sangat serius. Organisasi menjadi terpecah, kepercayaan publik menurun, dan kerja-kerja sosial menjadi tidak efektif. Dalam konteks daerah seperti Riau yang kaya potensi sumber daya dan pergerakan sosial, soliditas organisasi sangat penting. Jika di dalamnya dipenuhi oleh orang-orang oportunis, maka perjuangan akan kehilangan arah.
Karena itu, para pengurus dan anggota harus lebih selektif. Rekrutmen kader perlu berbasis rekam jejak dan komitmen, bukan sekadar kedekatan atau popularitas. Evaluasi internal harus berjalan objektif. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci agar tidak ada ruang bagi praktik-praktik manipulatif.
Pada akhirnya, organisasi bukan tempat mencari keuntungan pribadi, melainkan ruang pengabdian. Loyalitas bukan soal seragam atau simbol, tetapi tentang konsistensi sikap dan tindakan.
Hati-hati dengan mereka yang menjadikan organisasi sebagai ladang transaksi. Sebab ketika nilai dijual, yang runtuh bukan hanya struktur, tetapi juga marwah perjuangan itu sendiri. (Opini Redaksi RPC)
