Berdoalah dengan Merendah Diri dan Lembut, InsyaAllah Keajaiban Tiba
https://www.riaupublik.com/2017/02/berdoalah-dengan-merendah-diri-dan.html
Juma't 10-02-2017 I 13:55:02WIB. Oleh: M. Husnaini
| Foto: Ilustrasi Memohon Kepada Tuhan Dengan Berdoa. |
KHAZANAH, RIAUPUBLIK.Com-- NAMANYA Abu
Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi
Al-Bukhari (196 H/810 M-256 H/870 M). Siapa saja yang belajar hadis pasti
mengenal ulama bernama populer Imam Bukhari ini. Lahir di Bukhara, Uzbekistan,
dia adalah ahli hadis termasyhur sepanjang masa. Tetapi, tahukah Anda bahwa
ulama yang hafal puluhan ribu hadis beserta detail sanadnya ini pernah
mengalami kebutaan sewaktu kecil?
Adalah sang ibunda yang begitu sedih melihat kondisi Bukhari
kecil. Ibnu Hajar dalam ‘Hadyu
As-Sari’ meriwayatkan bahwa ibunda Imam Bukhari tiada henti berdoa
untuk memohon kesembuhan putranya. Allah akhirnya mengabulkan doanya. Pada
suatu malam, ibunda Imam Bukhari bermimpi melihat Nabi Ibrahim yang berkata,
“Hai Fulanah, sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena
seringnya engkau berdoa.” Pagi harinya, ibunda Imam Bukhari menyaksikan bahwa
penglihatan putranya telah kembali normal.
Subhanallah. Itulah keajaiban sebuah doa. Simak pula kisah yang
dialami Nabi Zakaria (91 SM-1 M) sebagaimana dituturkan al-Qur’an. Dalam usia
senja, Nabi Zakaria gelisah karena belum juga dikaruniai keturunan. Kendati
demikian, pantang bagi Nabi dan Rasul Allah ke-22 ini patah arang. Siang dan
malam dia terus melabuhkan doa kepada Allah supaya memberinya seorang putra
sebagai pewaris obor perjuangan.
“Ya Tuhanku, sungguh
tulangku telah lemah dan telah menyala uban di kepalaku, dan aku belum pernah
kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sungguh aku khawatir
terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul,
maka anugerahkanlah aku seorang putra dari sisi Engkau, yang akan mewarisi aku
dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikan dia, Ya Tuhanku, seorang
yang diridai.” (QS Maryam: 4-6).
Ajaib. Allah menjawab doanya. Padahal, usia Nabi Zakaria saat
itu sudah mencapai sembilan puluh tahun dengan kondisi istri, Hannah, yang
mandul. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Setiap doa yang keluar dari
ketulusan nurani dan kebersihan jiwa akan mengubah segala yang tampaknya tidak
mungkin menjadi mungkin. Inilah kabar bahagia bagi kaum beriman. Apalagi Allah
sendiri telah menegaskan akan mengabulkan setiap doa hamba sepanjang dia mau taat
kepada-Nya.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, jawablah bahwa
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS Al-Baqarah: 186).
Memahami ayat di atas, tentu tidak alasan bagi kaum beriman
untuk enggan berdoa. Jangan sampai ada anggapan bahwa peran doa sangat sedikit
dalam pencapaian sebuah keberhasilan. Itulah pola pikir orang yang sombong dan
tidak tahu diri. Merasa diri hebat sehingga perlu mengesampingkan campur tangan
Allah dalam setiap tarikan gerak dan langkah. Termasuk pola pikir picik juga
ketika orang mau berdoa tetapi minus kemantapan bahwa doanya itu akan didengar
Sang Maha Penentu Keputusan.
Allah pasti mendengar setiap keluh kesah, sekalipun yang tidak
pernah terucap. Tidak ada relung jiwa manusia yang tidak mampu ditembus Allah.
Jarak antara Allah dan kita sangat dekat, melebihi urat leher.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Sungguh
Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui segala yang dibisikkan oleh
hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS
Qaf: 16).
Itulah kenapa Islam adalah agama yang sangat kaya doa. Tiada
laku kehidupan Muslim yang tidak dimulai dan dipungkasi dengan doa. Menurut
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ada dua macam doa: doa ibadah (penghambaan)
dan doa masalah (permintaan).
Seluruh ibadah dalam rukun Islam hakikatnya
adalah doa. Karena, rangkaian gerakan dan ucapan di dalamnya berintikan
permohonan rida Allah. Paketnya langsung dari nas. Kita tinggal pakai, tanpa
boleh berkreasi. Lain lagi dengan doa masalah, seperti permintaan pengampunan,
kebahagiaan, belas kasih, penghidupan, kesuksesan, dan semacamnya. Meskipun
bacaan dari al-Qur’an dan hadis diutamakan, tetapi kita masih boleh berkreasi
dengan bahasa sendiri. Terkabulnya doa jenis ini sangat bergantung kualitas doa
ibadah kita.
Masih banyak kisah keajaiban doa yang tidak mungkin dikutip semua
di sini. Atau boleh jadi malah sudah Anda alami sendiri. Pastinya, tidak ada
makhluk di kolong jagat ini yang bisa mengerahkan secuil daya dan upaya
sekalipun, tanpa belas kasih dan uluran pertolongan Allah. Tantangan Allah
sebagaimana disampaikan kepada kaum kafir Makkah sudah jelas,
قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً
“Katakanlah,
‘Panggillah mereka yang kalian anggap tuhan selain Allah, niscaya mereka tidak
akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian dan tidak pula
memindahkannya’.” (QS Al-Isra’: 56).
Alangkah lebih mulia sekiranya kita sanggup merenungkan dan
mengamalkan firman Allah berikut.
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah
diri dan suara yang lembut. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas. Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sungguh
rahmat Allah itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’raf: 55-56).